Banyak Cukup Umur Merokok, Menkes Minta Guru Tak Beri Pola Buruk

Ilustrasi rokok. Foto: Thinkstock Ilustrasi rokok. Foto: Thinkstock

Jakarta - Perokok sekarang tak memandang usia. Anak-anak dan cukup umur di Indonesia pun sudah berani untuk mengisap rokok yang jelas-jelas sanggup membahayakan tubuhnya.

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi perokok pada belum dewasa dan cukup umur Indonesia di bawah 18 tahun meningkat, dari yang sebelumnya 7,2 persen menjadi 9,1 persen.

Melihat hal yang cukup miris ini, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyoroti peraturan yang ada di sekolah dan meminta para guru untuk tidak merokok juga.

"Kita dorong lagi Mendikbud, pada anak sekolah, gurunya juga dihentikan merokok. Makara menjadi contoh, saya kira kita harus dorong di sekolah, bukan hanya di luar sekolah tapi di dalam sekolah juga harus tegas menyampaikan dihentikan merokok," ungkapnya ketika rangkaian program Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Prof. Sujudi Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (11/7/2019).



Menurut Menkes Nila, meningkatnya prevalensi perokok pada belum dewasa dan cukup umur salah satunya sebab mudahnya iklan maupun sponsor rokok beredar di media sosial. Mengingat media umum dipakai oleh segala umur.

"Kita harus menurunkan (jumlah) rokok pemula, harus mencapai 5 persen," tegas Menkes Nila.

Iklan rokok dianggap sangat besar lengan berkuasa menciptakan belum dewasa dan cukup umur terpikat untuk mencoba rokok. Sebagaimana yang kita tahu, rokok merupakan penyebab utama dari kanker dan penyakit tidak menular lainnya. Padahal penyakit-penyakit itu sanggup dicegah dengan mengurangi sikap jelek merokok.



Simak Video "Amankah Rokok Elektrik Digunakan?"
[Gambas:Video 20detik]

Belum ada Komentar untuk "Banyak Cukup Umur Merokok, Menkes Minta Guru Tak Beri Pola Buruk"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel