Risiko Kanker Di Balik Sedapnya Ikan Asin
Jadi problem dikala ikan asin dengan pengawet menyerupai formalin atau boraks dikonsumsi dalam jangka panjang. (Foto: iStock)Jakarta - Ikan asin lekat dengan image pangan yang murah, enak, dan gampang diolah. Makan ikan asin gotong royong tak jadi problem kalau tidak terlalu banyak atau sering.
Namun berbeda halnya kalau ikan asin dikonsumsi berlebihan. Apalagi kalau ikan asin mengandung banyak zat pengawet, misal formalin dan boraks.
"Konsumsi ikan asin berlebihan berisiko menjadikan kanker kanal cerna, yang dimulai dari bibir dan rongga lisan sampai lambung. Semua yang dilewatin ikan asin berisiko kena kanker," kata dokter jago radiasi onkologi dr Denny Handoyo Kirana, SpOnk.Rad.
Risiko ini sesuai alur pengolahan ikan asin dalam kanal cerna. Beberapa risiko kanker yang mungkin muncul ialah rongga mulut, tenggorokan erat nasofaring, kerongkongan atau esofagus, sampai lambung. Risiko paling besar ialah nasofaring alasannya letaknya ngumpet.
Nasofaring ialah areal di belakang hidung yang lebih tinggi dari rongga mulut. Menurut dr Denny, areal ini berbahaya alasannya sulit dijaga kebersihannya. Areal nasofaring tak terjangkau perjuangan kebersihan setiap hari, layaknya sikat gigi untuk menjaga kebersihan rongga mulut
Letak yang ngumpet juga menyulitkan kontrol di belahan nasofaring. Padahal nasofaring dilewati sirkulasi udara dan pengolahan masakan di dasarnya setiap hari. Tak heran bila kanker nasofaring ditemukan bila ukurannya sudah besar.
Pertumbuhan benjolan ke arah pendengaran menyebabkan sensasi penuh, bergesekan dengan hidung menjadikan mimisan, atau sulit menelan menyerupai amandel. Kanker nasofaring biasanya diatasi dengan kemoterapi dan radiasi.
Salah satu penikmat ikan asin Ekariyana tak menyangka asupan tersebut berkontribusi menjadikan kanker nasofaring. Lelaki asal Blora, Jawa Tengah ini menyampaikan tak perlu lauk lain kalau sudah ada ikan asin dan sambal terasi.
"Dulu aku tidak tahu kalau ikan asin dapat menjadikan kanker. Sekarang aku menghindari ikan asin, paling konsumsi 1 kali setahun ngobatin kangen. Dikit aja cuma buat inget begini lho rasanya," kata Eka yang sekarang berusia 46 tahun.
Eka menjalani pengobatan selama kurang lebih 6 bulan, yang berakhir pada Agustus 2014. Sejak didiagnosa pada Februari 2014, Eka menjalani kurang lebih 30 radiasi, 3 kali kemoterapi dengan periode 3 bulan, dan 6 kali terapi kemoterapi periode mingguan. Eka sekarang memasuki tahun kelima pemulihan kanker.
Ikan asin tentunya bukan menjadi faktor risiko satu-satunya kanker nasofaring. Gaya hidup, geografis, dan ekonomi ikut berperan menjadikan kanker di masyarakat. Pertumbuhan kanker dapat dicegah dengan tidak merokok, olahraga, makan sehat, dan rutin cek kesehatan.
Bagi penikmat ikan asin, dr Dante menyampaikan masih dapat menimati masakan favoritnya. Namun sebaiknya jangan terlalu sering serta tahu proses pembuatan dan kualitas bahannya. Ikan asin yang hendak dikonsumsi harus terbuat dari materi segar serta tanpa pengawet, untuk menekan risiko terjadinya kanker.
Simak Video "Kenali Ciri-ciri Makanan Mengandung Formalin atau Boraks"
[Gambas:Video 20detik]
Belum ada Komentar untuk "Risiko Kanker Di Balik Sedapnya Ikan Asin"
Posting Komentar